Sore Dan Kamu

Selamat sore.

Sore ini aku perlahan-lahan memeras isi kepala untuk menumpahkan penat kedalam sebuah tulisan. Sambil ngopi, aku play lagu Float – Sementara.

Dari situ, aku tenang. Soreku bahagia. Kamu dimana, aku tidak tahu. Mungkin kamu masih pusing dengan target marketing harianmu. Aku hanya bisa Support semampuku.

Sambil menulis, aku ikut nyanyi-nyanyi terbawa lagu syahdu Float yang aduh enak banget lagunya. Tolong.. tolong.. aku seperti hanyut kedalam selimut nadanya.

Dan “Kling.. Kling..” Whatsapp dari tami. Aku tidak langsung membuka pesannya, aku tertegun memikirkan manusia satu ini. Dia datang membawa pesan dan Inspirasi untuk Indonesia ku. Lalu tiba-tiba saja aku rindu. Aku tarik nafas dan membuka galeri Hp-ku. Dan sialan, aku benar-benar rindu.

Tidak mau ambil resiko, yang nantinya semakin berat, aku bergegas mandi untuk segera menjemputnya di tempat kerja, tanpa pesan aku sedang menghampirinya. Karena kami kuliah bersama dan satu atap berdua, dalam garis yang sama alias satu barisan. Aku dan dia duduk bersebelahan.

Soreku sederhana dan baik-baik saja selama masih ada kamu.

Iklan

Saat Terbaik Dalam Hidupku Adalah Dengan Kamu

Instagram @nurutami603
Instagram @nurutami603

Sudah lama rasanya aku tidak menulis kata-kata manis untuk kamu baca. Selama ini, aku selalu aplikasikan hal manis secara langsung, kayanya. Sampai kamu mesem-mesem sendiri. Baik, sebentar. Sambil membayangkan kamu membaca tulisanku, yang pastinya senyum-senyum sendiri, aku ingin membuat Kopi dulu, agar supaya tidak mengantuk. *kencengin ikat sarung* ☕

Judul itu adalah rangkuman hati, dengan berbagai macam pertimbangan, dan atas persetujuan dewan pers saat menetapkan tersangka. Adalah kamu. Kata itu aku kutip dari sebuah lagu ciptaan Alditsa Dochi Sadega – Fluktuasi Glukosa.

Betapa tidak profesionalnya aku, menuliskan khusus satu artikel tentang kamu. Percayalah, tidak akan selesai hanya dengan satu kali postingan. Jika aku kuras seisi otakku untuk menumpahkan semua, pasti akan menjadi cerita series. Kamu terlalu rumit +dan menggemaskan.

Sending a whatsapp message Tami:

Me: Iloveyou

Kamu: Kenapa kalo i love you gak ada spasinya?+

Me: Aku gak mau ada jarak dari kalimat itu. Ganggu!

Kamu: Iloveyoutoo

Seiring berjalannya waktu, kita terbiasa mengungkapkan kata itu lewat pesan tanpa menggunakan spasi. Kita berhasil.

Hiperbola yah kalo di pikir-pikir. Cuek aja. Nggak ada UU yang melarang atau manusia lain mau mengumpat? Aku sebodo amat. Jatuh cinta gak pake aturan, nanti disangka posesif.

Selamat ulang tahun, yah. Doa terbaik buat kamu dari aku. Bilang sama mamah, makasih udah gedein kamu sampai sekarang, sampai kamu ketemu aku. Dalam agama, aku harus bersyukur. Sangat bersyukur bisa ketemu dengan

“Saat terbaik dalam hidupku adalah dengan Kamu”

Pertemanan

Nggak banyak dari kita yang sadar bahwa mempertahankan temen lama yang benar-bener baik itu adalah aset berharga dalam hidup. Menjaga hubungan baik yang kental, walaupun semakin kita tua, semakin sulit untuk cocokin waktu buat ketemu. Alasannya banyak, magerlah, males bawa kendaraanlah, dan gak cocoknya jadwal kerjalah.

Padahal kalo dipikirin, temen lama yang emang bener-bener baik itu jarang. Serius deh, kalo bisa maintain agar hubungan tetep terjaga. Pertemanan kalo udah lama gak di urus lapuk juga, ketutup sama orang-orang baru yang datang ke dalam hidup kita. Prinsip gue dalam berteman:

“Nggak peduli seberapa banyak teman. Kalo emang sedikit, tapi pertemanan berkualitas, nggak apa-apa. Syukur alhamdulillah..”

Gue sampe sekarang pengen banget ketemu sama temen lama yang emang bener-bener pengen gue pertahanin. Buat seleksi sendiri, siapa-siapa aja yang emang cocok dengan gue. Bukan sombong, tapi emang hal ini penting buat kita. Ngapain pertahanin temen yang emang negatif, kalo yang positif lebih baik.

Teman Berbagi

Instagram @rivaldistar

Pernah kepikiran gak kalian, kalo hidup ini sebenernya hanya simulasi aja, hanya percobaan, mungkin ada sekelompok makhluk diluar tata surya sana yang mengawasi prilaku kita, sebagai bahan simulasinya. Mereka meeting dan pusing mikirin kita kok gini-gini amat, solusi demi solusi yang gak kita rasakan langsung mereka lakukan, tapi nihil.
Yang absurdnya lagi, gue mikir, pas mereka tidur dan terbangun sudah melewatkan beberapa tahun lamanya dan melihat jumlah manusia semakin banyak. Kagetlah mereka. Mungkin mereka gak nyangka sesange itukah ciptaan simulasi mereka ini. Diluar kendali dan timbulah kekacauan-kekacauan disana dan disini.

Nah dari cerita diatas bisa dipetik inti dan maunya apa si gue nulis begindang. Sharing is caring.

Teman berbagi yang asik dan mampu menjadi wadah untuk kita share pemikiran kita tanpa mengintimidasi dengan jawaban-jawabannya, lalu cerita tanpa ada batasan, bikin diri kita jadi diri sendiri saat cerita masalah. Gak melebih-lebihkan keadaan.
Betapa bahagianya hidup ini kalo punya satu teman yang kalo di ajak cerita bisa brainstroming bersama walaupun hanya 2 kepala. Ya syukur lebih.

Gue sendiri yakin sih, seberapa konsistennya orang menutup diri dari masalah-masalah hidupnya, pasti orang itu butuh wadah untuk numpahin keluh kesahnya, sangat butuh malah. Tapi yakk, itu. Ketidak cocokan dalam berbagi hal atau masalah kita terhadap orang lain, bikin orang yang punya masalah males cerita dan akhirnya depresi, ngerasa terkucilkan, ngeluhin hidupnya, mengkesampingkan visi-misi awal hidupnya karena sebuah masalah, dan yang berujung KOIT atau bunuh diri.

Udah banyak kasus depresi karena menutupi masalah hidup yang berujung bunuh diri.
Pesan moral :

Kalo ada temen yang cerita masalah hidupnya, tanggapi dengan baik, kasih solusi yang tidak menyudutkan kalo dia lemah atau mengintimidasi dengan argumenmu yang harus dipaksakan dia harus nurut sama apa yang kmau sampaikan.

Jadi walau bagaimanapun keadaannya, kita sesama makhluk sosial, makhluk simulasi, yang tentu sedang diawasi oleh makhluk lain diluar tata surya sana. Kita harus bersatu teguh menunjukan kepada mereka para pengawas, kalo simulasi mereka berhasil. Jadi gak sampah-sampah amat simulasinya.
Hindari yang namanya Kekacauan, rusuh sana sini, ngerasa paling bener, selalu ngerasa diri udah paling senior dalam jalanin hidup. Sikap anti vaksin, anti politik, males ngomongin politik, tapi gampang di bego-begoin sama berita hoax. Sikap suka nuntut ini itu sama pemerintah padahal peduli juga kaga lo nyet, ngeselin si orang begini. :’D

Konsisten

Hi.. udah lama gue gak nulis panjang lebar numpahin segala keresahan disini. Inget dulu banget pas awal-awal nulis tahun 2014, gue bisa nulis 3 artikel dalam satu hari, sekarang boro-boro. Walaupun artikelnya tentang keresahan hati yang alay banget sampe geli sendiri kalo baca. Hahahaha

Konsisten itu sulit kalo nggak terus menerus di asah. Meninggalkan kesukaan lo sebentar, dan lo merasa nyaman dengan kehidupan yang dirasanya enak banget, seru banget, sampe mengkesampingkan apa yang biasanya lo lakuin, terus, lagi dan lagi. Gue merasakan hal semacam itu. Roda kehidupan terus berputar tanpa ngasih aba-aba bakal seperti apa hidup lo di depan, konsisten dalam suatu bidang yang lo suka, gue rasa cukup penting untuk masa depan lo. Banyak orang cari aman dengan mikir “jadi PNS ah! Pasti makmur” dan “Harus jadi kartap ah, biar sukses!”. Gue nggak menyalahkan. Mungkin emang genre hidupnya disitu. It’s okay.

Gue sendiri masih bingung mau jadi apa dan kemana nih gue harus jalan. Kadang gue berdialog dipikiran “Ini pas tuhan bagiin juknis kehidupan untuk masing-masing mahkluk hidup, gue absen kali yak”. kebingungan-kebingungan yang ada dipikiran tuh absurd. Sampe disangka temen gue atheis.

Temen-temen, gue serius, konsisten itu penting banget, biar bikin kita gak kaku ngelakuin kesukaan kita. Ini asli gue gak bohong, baru nulis segini doang gue udah stuck beberapa kali. Mikir-mikir “nulis apalagi yaaa”. Terus aja paksain biar otak mikir dan numpahin semuanya, agar supaya panas. Ya maklum gue udah lama gak nulis cerita-cerita gajelas, puisi-puisi juga. Astagaaa. Hahaha

Dulu pas zamannya lagi rajin nulis, gue selalu pantau laman statistik blog gue. Seneng sekali kalo ada yang baca, walaupun gak banyak dan nyampe puluhan pembacapun ndak, kasian amat gak si. Hahaha
Dan lagi, kalo ada yang komen dan apresiasi kalo tulisan gue bagus. Seneng banget gue. Berasa jadi seorang profesinal. Hal-hal kaya gini yang bikin gue seneng dan rajin banget nulis kalo dulu. Kalo sekarang yaa ampun so banget sibuk, padahal waktu luang banyak. Nonton film mulu kerjaannya, pacaran mulu, debat mulu gue. Ampun..

Mumpung masih muda, pikirin 10 tahun kedepan mau jadi apasih lo. Gue juga lagi mikirin ini. Kalo emang mau jadi PNS atau Kartap yauda konsistenin belajar dan tekunin hal apa aja yang bisa bikin lo jadi seperti itu. Pasti bisa, gak ada yang gak mungkin.

Random.

Perkenalkan nama saya smith, tinggi badan saya tidak lebih dari lebar pinggang saya. Silahkan anda pikirkan hal yang tidak masuk akal ini.
Saya anak pertama dari empat bersaudara. Saya tidak bisa berbicara lancar dengan orang yang baru saya kenal. Saya benci drama. Saya selalu ingin sukses tapi lamban dalam bertindak.
Saat ini saya sedang menulis.
Tentang apa yang membuatku mudah, berikan hatiku padamu.

Random.

Satu kalimat untuk malam ini.
Next..

Malam adalah tentang bagaimana rindu ini sampai lewat nada dering handphone yang berbunyi, saat kamu membalas pesanku.
Terima kasih sudah sigap untuk merespon rindu ini. Jaga selalu jemarimu, agar malamku indah dengan membayangkanmu, karena pesanmu adalah sebuah anugerah yang menggairahkan hatiku.

Semua terasa biasa saja.
Next.

Pernahkah kalian berpikir saat membunuh seekor kecoa. Berpikir jika “Bagaimana jadinya jika kecoa yang kamu bunuh adalah kepala keluarga. Dan anak-anaknya sedang menunggunya di rumah”. Sungguh biadab.

Bisa juga “Bagaimana jika kecoa yang kamu bunuh itu, akan pergi bertemu client nya untuk membahas konsep pekerjaan barunya”.

Pernahkah berpikir gak, kalo orang yang kamu ngomongin di belakang, ternyata gak pernah ngomongin kamu dibelakang kepada orang lain.

Media Sosial Dan Pertemanan

Ijinkan gue numpahin keresahan akan hal ini yah. Tolong iyain aja ya! *maksa*

Perspektif orang beda-beda, walaupun berbeda-beda tapi tetap pengen ngerasa paling bener. Bodo ah, blog gue ini.

Kita sebagai makhluk sosial tentunya akan selalu merasa haus akan perkembangan zaman. Zaman merubah segalanya, dari mulai pakaian, gaya hidup, bentuk tubuh, bentuk kelamin dan lain sebagainya.

Di era digital, kita semua bisa memasarkan diri kita kepada khalayak ramai. Kita harus mempunyai keunikan agar supaya client yang kita incar tertarik dengan apa yang kita sahre, hal semacam ini adalah sebagian point kecil dalam bermedia sosial. Untuk itu, maka kita harus tau apa yang harus kita jual (apakah diri kita? Oh tentu tidak. Tapi sikap), kita tunjukan, agar membuat seseorang bisa koheren dengan keberadaan kita.

Pertama: Berusahalah bagikan keceriaan kepada teman-teman media sosial, jangan galau mulu. Sesuatu yang sekiranya bisa relate dengan kita, baik untuk jiwa raga dan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Jangan sharing yang menimbulkan gesekan antara kedua belah pihak, gesekan apakah itu? Ereksi? Bukan. Ya pokoknya jangan ya.

Kedua: Berusalahan bagikan Lifehack untuk teman-teman di media sosial. Solusi yang memudahkan hidup. Karena 98% penghuni bumi ini menginginkan solusi. Seperti kata pepatah

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa menolong sesamanya.

karena dengan ini lo bakal di cari! Satpol pp!

Ketiga: Selalu jadi teman media sosial yang murah like, comment and subscribe. Bodo ah emang gue yutuber. Maksudnya adalah menjadi teman yang selalu ngelike postingan temen, agar supaya temen kita senang. Karena pada hakekatnya semua insan yang ngeshare sesuatu ke medsos itu butuh di apresiasi, bukan begitu minion-minion? Yak!

Keempat: Point keempat ini gue membutuhkan mediasi yang panjang, sehingga dalam beberap menit gue fokus pada satu kalimat, yaitu.

Pertemanan.
Dalam pertemanan kita harus mempunyai Value. Kita harus mampu Deliver Value yang ada dalam diri kita. Jadilah bala bantuan bagi temanmu. Papah dia untuk menuju bahagianya. Jangan berharap apapun, jangan berharap impas. Buktikan kalo lo teman sejati. Kalo lo adalah teman yang dikirim tuhan untuk merubah nasibnya. Kalo belom apa-apa, jangan berharap apa-apa. Jangan jadi teman yang transaksional. Fokus untuk jadi berguna.

Jika temanmu ada masalah, jadilah pendengar yang bijak, jangan mengintimidasi keluhan temanmu, seperti “yaelah lo gimanasi…” atau “ya janganlah, ini tuh harusnya…”. Dan jika temanmu curhat, cerita tentang kekesalannya terhadap si A, maka kamu sebagai pendengar yang bijak jangan meng-iyakan saja. Redam emosinya agar tidak terus menerus menanam kekesalan dalam hatinya terhadap si A. Dan hindari juga, memarahi teman pas dia lagi curhat. Iya ini salah.

Berikan yang terbaik. Gue punya keyakinan, kalo memberi itu gak bakal mengurangi. Jangan mikir “terus gue dapet apa kalo gue bla bla blaa”. Dalam anatomi pertemanan, memberi dan membantu itu tidak harus pandang bulu. Tapi pandanglah apa tau gak nemu lucunya. :)))

Baik teman-teman yang gue cintai dan banggakan, nuhun udah baca sampe kelar.